Kisah Abu Bakar yang lebih memilih perlidungan Allah dibandingkan perlindungan dari Ibnu Dugunnah


 Oleh: Davi Alfa Mubarok

Guru Madrasah Diniyah Yasmi

Dalam Kitab Nurul Yaqin disebutkan bahwa salah seorang yang mengalami siksaan oleh kaum kafir quraisy adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada waktu itu, Abu bakar yang mengalami beratnya siksaan kafir Quraisy pun bertekad untuk pergi hijrah dari Makkah menuju Habasyah. Dalam perjalanan, Abu Bakar sampai di sebuah kampung bernama Barkul Imad. Di sana, beliau bertemu dengan seorang pemimpin kabilah bernama Ibnu Dugunnah. Ibnu Dugunnah bertanya, “Abu Bakar, kamu mau ke mana?”

Abu Bakar menjawab, “Kaumku sudah mengusirku. Jadi aku ingin mencari tempat tinggal lain supaya bisa beribadah kepada Tuhanku dengan tenang.” Mendengar itu, Ibnu Dugunnah langsung berkata, “Abu Bakar, orang baik seperti kamu tidak pantas diusir! Kamu suka menolong orang lemah, menjaga silaturahmi, memberi makan orang fakir, memuliakan tamu, dan membantu saat ada musibah. Pulanglah, aku akan melindungimu. Beribadahlah di negerimu sendiri.”

Akhirnya Abu Bakar kembali ke Mekah bersama Ibnu Dugunnah. Mereka tawaf dulu, lalu pergi ke tempat para pemimpin Quraisy berkumpul. Ibnu Dugunnah berkata kepada mereka, “Orang seperti Abu Bakar tidak boleh diusir. Kalian mau mengusir orang yang selalu menolong dan memuliakan tamu?” Kaum Quraisy tidak membantah. Mereka berkata, “Baiklah. Suruh Abu Bakar beribadah di rumah saja. Mau baca Al-Qur’an silakan, tapi jangan terang-terangan. Kami takut anak-anak dan istri-istri kami tertarik dengan bacaannya.”

Ibnu Dugunnah menyampaikan syarat itu kepada Abu Bakar. Tapi beberapa hari kemudian, Abu Bakar membuat tempat seperti masjid kecil di halaman rumahnya. Di situ beliau salat dan membaca Al-Qur’an sambil menangis. Suaranya sangat merdu, sampai membuat anak-anak dan istri-istri Quraisy datang diam-diam karena kagum. Para pemimpin Quraisy kaget saat mendengar itu. Mereka memanggil Ibnu Dugunnah dan berkata, “Kami melindungi Abu Bakar karena perlindunganmu, tapi dia melanggar. Kalau dia mau kembali ke perjanjian awal, tidak masalah. Tapi kalau dia menolak, kami minta kamu mencabut perlindunganmu.”

Ibnu Dugunnah menemui Abu Bakar dan berkata, “Jika engkau mau beribadah hanya di rumah, Quraisy akan meneruskan perjanjian. Tapi jika engkau menolak, mereka menyuruhku mencabut perlindunganku darimu. Dan aku tidak suka jika orang yang sudah kulindungi harus dicabut perlindungannya.” Abu Bakar menjawab dengan tegas, “Cabutlah perlindunganmu. Aku lebih rela berlindung kepada Allah daripada berlindung kepadamu.” (HR. Bukhari)

Karena hal itulah, Abu Bakar pun kembali merasakan siksaan dari para pemimpin Quraisy.

وبا الجملة لا يخل احد ← الى أخره       

Kesimpulannya, pada masa itu tidak ada satu pun kaum Muslimin yang bebas dari ujian. Semua sahabat pasti merasakan gangguan dan siksaan. Tapi semakin besar ujian, semakin kuat iman mereka. Mereka masuk Islam bukan karena mengejar dunia. Kalau karena dunia, mereka sudah lama murtad. Namun Allah memberi mereka taufik dan hidayah, sehingga mereka memahami hakikat iman. Karena iman itulah, segalanya menjadi lebih mudah bagi mereka.

Pesan moral yang dapat kita jadikan pelajaran salah satunya adalah selalu meluruskan niat karena Allah SWT ketika kita sedang menuntut ilmu, dimanapun dan kapanpun. Oleh sebab demikian, jika niat kita telah lurus Lillahi Ta’ala maka segala rintagan pasti akan terasa mudah bagi kita. Karena orang yang memiliki tujuan mulia untuk menuntut ilmu, tidak akan tumbang begitu saja.

Semua yang penulis lampirkan merupakan kutipan langsung yang tertera dalam kitabNurul Yaqin(Hal 51-52), yang menjelaskan bahwa Abu Bakar juga termasuk kedalam kategori orang yang mengalami ujian dari orang-orang kafir Quraisy, apabila apa kesalahan itu mutlaq dari sisi penulis tersendiri, begitupun apabila ada kebenaran maka itu mutlaq dari sisi Allah SWT, keberkahan guru, sanad para ulama serta pengarang kitab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tamyiz dalam Perspektif Nahwu: Kaidah, Contoh, dan Aplikasinya

SILATURAHMI KUNCI MENDAPAT RIDHA ALLAH

Pendidikan Agama Islam mampu Menjawab Tantangan Zaman dan Persoalan Umat

PERAN ORANG TUA TERHADAP KEGIATAN ANAK DI RUMAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA Oleh : Dida Nursida, M.Pd. Pengurus PC Pergunu Kabupaten Bogor

Masa Suram Kaum Perempuan

Pesantren, Moderasi Islam, dan Isu Radikalisme

BERFILANTROPI DENGAN RUANG AMAN

LEBIH UTAMA MEMBACA MUSHAF ATAU HAFALAN