Kisah Abu Bakar yang lebih memilih perlidungan Allah dibandingkan perlindungan dari Ibnu Dugunnah
Guru Madrasah Diniyah Yasmi
Dalam Kitab Nurul Yaqin
disebutkan bahwa salah seorang yang mengalami siksaan oleh kaum kafir quraisy
adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada waktu itu, Abu bakar yang mengalami beratnya
siksaan kafir Quraisy pun bertekad untuk pergi hijrah dari Makkah menuju
Habasyah. Dalam perjalanan,
Abu Bakar sampai di sebuah kampung bernama Barkul Imad. Di sana, beliau bertemu
dengan seorang pemimpin kabilah bernama Ibnu Dugunnah. Ibnu Dugunnah bertanya, “Abu
Bakar, kamu mau ke mana?”
Abu Bakar menjawab, “Kaumku sudah mengusirku.
Jadi aku ingin mencari tempat tinggal lain supaya bisa beribadah kepada Tuhanku
dengan tenang.” Mendengar itu, Ibnu Dugunnah langsung berkata, “Abu
Bakar, orang baik seperti kamu tidak pantas diusir! Kamu suka menolong orang
lemah, menjaga silaturahmi, memberi makan orang fakir, memuliakan tamu, dan
membantu saat ada musibah. Pulanglah, aku akan melindungimu. Beribadahlah di
negerimu sendiri.”
Akhirnya Abu Bakar kembali ke
Mekah bersama Ibnu Dugunnah. Mereka tawaf dulu, lalu pergi ke tempat para
pemimpin Quraisy berkumpul. Ibnu Dugunnah berkata kepada mereka, “Orang
seperti Abu Bakar tidak boleh diusir. Kalian mau mengusir orang yang selalu
menolong dan memuliakan tamu?” Kaum Quraisy tidak
membantah. Mereka berkata, “Baiklah. Suruh Abu Bakar beribadah di rumah
saja. Mau baca Al-Qur’an silakan, tapi jangan terang-terangan. Kami takut
anak-anak dan istri-istri kami tertarik dengan bacaannya.”
Ibnu Dugunnah menyampaikan syarat itu kepada Abu
Bakar. Tapi beberapa hari kemudian, Abu Bakar membuat tempat seperti masjid
kecil di halaman rumahnya. Di situ beliau salat dan membaca Al-Qur’an sambil
menangis. Suaranya sangat merdu, sampai membuat anak-anak dan istri-istri
Quraisy datang diam-diam karena kagum. Para pemimpin Quraisy kaget saat
mendengar itu. Mereka memanggil Ibnu Dugunnah dan berkata, “Kami melindungi
Abu Bakar karena perlindunganmu, tapi dia melanggar. Kalau dia mau kembali ke
perjanjian awal, tidak masalah. Tapi kalau dia menolak, kami minta kamu
mencabut perlindunganmu.”
Ibnu Dugunnah menemui Abu Bakar dan berkata, “Jika
engkau mau beribadah hanya di rumah, Quraisy akan meneruskan perjanjian. Tapi
jika engkau menolak, mereka menyuruhku mencabut perlindunganku darimu. Dan aku
tidak suka jika orang yang sudah kulindungi harus dicabut perlindungannya.” Abu
Bakar menjawab dengan tegas, “Cabutlah perlindunganmu. Aku lebih rela
berlindung kepada Allah daripada berlindung kepadamu.” (HR. Bukhari)
Karena hal itulah, Abu Bakar pun kembali merasakan
siksaan dari para pemimpin Quraisy.
وبا الجملة لا يخل احد ← الى أخره
Kesimpulannya, pada masa itu tidak ada satu pun kaum Muslimin
yang bebas dari ujian. Semua sahabat pasti merasakan gangguan dan siksaan. Tapi
semakin besar ujian, semakin kuat iman mereka. Mereka masuk Islam bukan karena
mengejar dunia. Kalau karena dunia, mereka sudah lama murtad. Namun Allah
memberi mereka taufik dan hidayah, sehingga mereka memahami hakikat iman.
Karena iman itulah, segalanya menjadi lebih mudah bagi mereka.
Pesan moral yang dapat kita jadikan pelajaran salah satunya
adalah selalu meluruskan niat karena Allah SWT ketika kita sedang menuntut
ilmu, dimanapun dan kapanpun. Oleh sebab demikian, jika niat kita telah lurus
Lillahi Ta’ala maka segala rintagan pasti akan terasa mudah bagi kita. Karena
orang yang memiliki tujuan mulia untuk menuntut ilmu, tidak akan tumbang begitu
saja.
Semua yang penulis lampirkan merupakan kutipan
langsung yang tertera dalam kitabNurul Yaqin(Hal 51-52), yang
menjelaskan bahwa Abu Bakar juga termasuk kedalam kategori orang yang mengalami
ujian dari orang-orang kafir Quraisy, apabila apa kesalahan itu mutlaq dari
sisi penulis tersendiri, begitupun apabila ada kebenaran maka itu mutlaq dari
sisi Allah SWT, keberkahan guru, sanad para ulama serta pengarang kitab.

Komentar