Masa Suram Kaum Perempuan
Pada masa Arab jahiliyah ada sebagian masyarakat sukunya memiliki
adat kebiasaan yang tidak sangat manusiawi yaitu mengubur hidup hidup anak
perempuannya, dengan berbagai alasannya. Dan itu terjadi tidak semuah pada suku
suku. Ada beberapa suku yang memiliki kebiasaan demikian. Yang memiliki
kebiasaan yang memendam anak perempuannya hidup hidup, biasanya terjadi pada
suku suku yang tidak terhormat.
Anak perempun yang akan dikubur hidup hidup diminta oleh
ayahnya agar ibunya menghiasi terlebih dahulu dengan alasan akan dibawa untuk
menenmui keluarga atau sanak familinya, setelah sampai ditempat yang dituju,
setelah ayah menggali lubang, lalu sang ayah menyuruh putrinya utnuk melihat
lubang yang sudah di gali ayahnya, kemudian sang ayah menjerumuskan anak
perempuannya itu dan di kubur hidup hidup. Biasanya ini dilakukan ketika anak
perempuan mencapai usia 6 tahun.
Ada juga yang ketika ibu hendak melahirkan, si ibu siap
siap menghadap lubang yang sudah disiapkan, bila anaknya lahir perempuan
langsung saja lahir jatuh kelubang dan di kubur hidup hidup.
Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa
penguburan hidup hidup anak perempuan/bayi perempuan tidak terajdi pada semuah
suku/kabilah, konon yang pertama kali melakukan penguburan/pembunuhan hidup
hidup anak perempuan adalah suku/kabilah Bani Rabi’ah, Bani Kindah, dan
sebagian suku Bani Tamim dengan alasan takut anak perempuannya itu hidup
miskin, di perkosa, di tawan dan di jadikan budak (hamba sahaya).
Sedangkan suku Quraisy tidak mengenal kebiasan buruk yang
demikian, oleh karenanya riwayat yang menyatakan bahwa sahabat Umar bin Khattab
pernah mengubur hidup hidup anak perempuannya tidak dinilai shahih oleh para
pakar sejarah. Demikian Prof. Quraish Shibab
menjelaskan.
Masa
Jahiliyah adalah masa dimana perempuan menjadi sorotan dalam masyarkat Arab,
dimana budaya memposisikan perempuan sebagai kelas kedua dan lemah merajalela; Tidak
bisa di ajak berperang, hanya bisa menangis, menjadi beban keluarga dll. ini
tidak hanya terjadi di semenanjung Arab, namun juga terjadi diseluruh belahan
dunia. Dimana hampir semua memposisikan perempuan sebagai kelas kedua setelah
laki laki.
Pembunuhan
anak perempuan dengan alasan yang dikemukakan di atas Apakah terjadi atau tidak
di belahan dunia lainnya? Penulis belum mendapatkan informasi berkaitan dengan
hal itu. Namun bagaimana dunia memandang perempuan sebagai kelas kedua itu
banyak terjadi dalam sejarah. Dimana perempuan tidak bisa mewariskan tahta
kepemimpinan dalam kerajaan, Tidak bisa di angkat menjadi seorang pemimpin dan
masih banyak lagi yang secara mind set umum dahulu perempuan di pandang lemah,
tidak bisa berkarir diruang public sebagaimana laki laki.
Padahal
pada kenyataannya banyak perempuan yang cakap, bekerja keras dan berprestasi
dan mampu berkiprah di ruang publik sebagaimana laki-laki. Lebih lebih di zaman
sekarang ini. Ketika perempuan di zaman ini terkungkung di ruang privat (dapur
dirumah dan dikasur) sepertinya bisa terhitung jari, hari ini perempuan hampir
punya andil besar atau peran sebagai wakil kepala keluarga (menopang ekonomi
keluarga/membantu perekonomian keluarga).
Secara Qodrati Laki laki perempuan jelas berbeda; Perbedaan kelamin, perbedaan fisik, dan juga perbedaan psikis masing masing. Namun bukan berarti di pukul rata bahwa perempuan tidak bisa berpretasi diruang publik seperti laki laki. Walapun secara pisik berbeda tapi ada perempuan yang berjiwa tangguh, cakap dan berprestasi. Begitupun sebaliknya dengan perbedaan Fisik laki laki kita pukul rata bahwa hanya laki laki saja yang berhak berkarir diruang publik. Perbedaan jenis kelamin bukan penentu kesuksesan, tapi amal sholeh lah yang menjadi penentu kesuksesan. Bukankah dalam al-Qur’an barang siapa beriman dan beramal Sholeh baik laki laki ataupun perempuan akan diberikan ganjaran yang sama/sempurna.

Komentar