Masa Suram Kaum Perempuan

Oleh: Lukmanul Hakim

Pada masa Arab jahiliyah ada sebagian masyarakat sukunya memiliki adat kebiasaan yang tidak sangat manusiawi yaitu mengubur hidup hidup anak perempuannya, dengan berbagai alasannya. Dan itu terjadi tidak semuah pada suku suku. Ada beberapa suku yang memiliki kebiasaan demikian. Yang memiliki kebiasaan yang memendam anak perempuannya hidup hidup, biasanya terjadi pada suku suku yang tidak terhormat.

Anak perempun yang akan dikubur hidup hidup diminta oleh ayahnya agar ibunya menghiasi terlebih dahulu dengan alasan akan dibawa untuk menenmui keluarga atau sanak familinya, setelah sampai ditempat yang dituju, setelah ayah menggali lubang, lalu sang ayah menyuruh putrinya utnuk melihat lubang yang sudah di gali ayahnya, kemudian sang ayah menjerumuskan anak perempuannya itu dan di kubur hidup hidup. Biasanya ini dilakukan ketika anak perempuan mencapai usia 6 tahun.

Ada juga yang ketika ibu hendak melahirkan, si ibu siap siap menghadap lubang yang sudah disiapkan, bila anaknya lahir perempuan langsung saja lahir jatuh kelubang dan di kubur hidup hidup.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa penguburan hidup hidup anak perempuan/bayi perempuan tidak terajdi pada semuah suku/kabilah, konon yang pertama kali melakukan penguburan/pembunuhan hidup hidup anak perempuan adalah suku/kabilah Bani Rabi’ah, Bani Kindah, dan sebagian suku Bani Tamim dengan alasan takut anak perempuannya itu hidup miskin, di perkosa, di tawan dan di jadikan budak (hamba sahaya).

Sedangkan suku Quraisy tidak mengenal kebiasan buruk yang demikian, oleh karenanya riwayat yang menyatakan bahwa sahabat Umar bin Khattab pernah mengubur hidup hidup anak perempuannya tidak dinilai shahih oleh para pakar sejarah. Demikian Prof. Quraish Shibab menjelaskan.

Masa Jahiliyah adalah masa dimana perempuan menjadi sorotan dalam masyarkat Arab, dimana budaya memposisikan perempuan sebagai kelas kedua dan lemah merajalela; Tidak bisa di ajak berperang, hanya bisa menangis, menjadi beban keluarga dll. ini tidak hanya terjadi di semenanjung Arab, namun juga terjadi diseluruh belahan dunia. Dimana hampir semua memposisikan perempuan sebagai kelas kedua setelah laki laki.

Pembunuhan anak perempuan dengan alasan yang dikemukakan di atas Apakah terjadi atau tidak di belahan dunia lainnya? Penulis belum mendapatkan informasi berkaitan dengan hal itu. Namun bagaimana dunia memandang perempuan sebagai kelas kedua itu banyak terjadi dalam sejarah. Dimana perempuan tidak bisa mewariskan tahta kepemimpinan dalam kerajaan, Tidak bisa di angkat menjadi seorang pemimpin dan masih banyak lagi yang secara mind set umum dahulu perempuan di pandang lemah, tidak bisa berkarir diruang public sebagaimana laki laki.

Padahal pada kenyataannya banyak perempuan yang cakap, bekerja keras dan berprestasi dan mampu berkiprah di ruang publik sebagaimana laki-laki. Lebih lebih di zaman sekarang ini. Ketika perempuan di zaman ini terkungkung di ruang privat (dapur dirumah dan dikasur) sepertinya bisa terhitung jari, hari ini perempuan hampir punya andil besar atau peran sebagai wakil kepala keluarga (menopang ekonomi keluarga/membantu perekonomian keluarga).

Secara Qodrati Laki laki perempuan jelas berbeda; Perbedaan kelamin, perbedaan fisik, dan juga perbedaan psikis masing masing. Namun bukan berarti di pukul rata bahwa perempuan tidak bisa berpretasi diruang publik seperti laki laki. Walapun secara pisik berbeda tapi ada perempuan yang berjiwa tangguh, cakap dan berprestasi. Begitupun sebaliknya dengan perbedaan Fisik laki laki kita pukul rata bahwa hanya laki laki saja yang berhak berkarir diruang publik. Perbedaan jenis kelamin bukan penentu kesuksesan, tapi amal sholeh lah yang menjadi penentu kesuksesan. Bukankah dalam al-Qur’an barang siapa beriman dan beramal Sholeh baik laki laki ataupun perempuan akan diberikan ganjaran yang sama/sempurna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tamyiz dalam Perspektif Nahwu: Kaidah, Contoh, dan Aplikasinya

SILATURAHMI KUNCI MENDAPAT RIDHA ALLAH

Pendidikan Agama Islam mampu Menjawab Tantangan Zaman dan Persoalan Umat

PERAN ORANG TUA TERHADAP KEGIATAN ANAK DI RUMAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA Oleh : Dida Nursida, M.Pd. Pengurus PC Pergunu Kabupaten Bogor

Pesantren, Moderasi Islam, dan Isu Radikalisme

BERFILANTROPI DENGAN RUANG AMAN

LEBIH UTAMA MEMBACA MUSHAF ATAU HAFALAN