PERAN ORANG TUA TERHADAP KEGIATAN ANAK DI RUMAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA Oleh : Dida Nursida, M.Pd. Pengurus PC Pergunu Kabupaten Bogor
Minat baca merupakan suatu keinginan atau
kecendrungan yang tinggi (gairah) untuk membaca (Siregar, 2004). minat baca tumbuh dari diri siswa
masing-masing sehingga untuk meningkatkan minat baca perlu kesadaran setiap
individu.
Membaca merupakan suatu keinginan dan
kemauan untuk menuju kemajuan dan kesuksesan. Minat baca tersebut dapat
diperoleh dari masa siswa duduk dibangku sekolah dasar bahkan dari pendidikan usia
dini, dengan banyaknya membaca maka
siswa akan memiliki pengetahuan yang baru dan minat baca dapat ditumbuhkan serta
dikembangkan sehingga kebiasaan membaca dapat lebih menambah pengetahuan
menjadi luas.
Pada saat ini para siswa pada umumnya tidak
lagi bersemangat dalam minat baca, tentunya harus lebih ekstra untuk mengawasi
dan mengarahkan minat baca siswa. Peran orang tua sangat diperlukan utuk memberikan bimbingan
dan edukasi kepada anak–anaknya yang masih belum bisa membaca. Orang tua adalah
pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati, diberikan anugerah oleh Allah
SWT berupa perasaan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Ibu sebagai madrasatul
Ula artinya sebagai tempat pendidikan pertama yang harus memaksimalkan
mendidik anak-anaknya dirumah.
Minat dipengaruhi oleh perkembangan fisik,
mental, kesiapan belajar, pengalaman, bahan bacaan, keadaan lingkungan, dan
dukungan orang tua.
Membaca adalah serangkaian keterampilan
yang meliputi kegiatan mengamati, memahami, dan memikirkan (Saddhono dan Slamet
2012). Perintah membaca sesuai dengan dalil Al-Qur’an surah Al Alaq
ayat 1,
اِقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan!”.
Indikator minat baca dibagi menjadi empat
aspek, yakni (1) kesukaan yang indikatornya gairah dan inisiatif, (2)
ketertarikan yang indikatornya responsif dan kesegeraan, (3) perhatian yang
indikatornya konsentrasi dan ketelitian, (4) keterlibatan yang indikatornya
kemauan dan keuletan (Safari 2003).
Pemerintah berupaya mencari solusi terbaik
untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca. Pada tahun 2015, pemerintah
Indonesia menyikapi rendahnya membaca dengan lebih serius yaitu dengan gerakan
literasi, hal itu tidak menjadikan semua siswa gemar membaca.
Masalah mendasar rendahnya minat dan
kebiasaan membaca berhubungan dengan ketersediaan buku, faktor situasional dan
pola asuh orang tua. Tidak semua anak mendapatkan buku yang berkualitas dan
sesuai dengan usia. Faktor ekonomi atau rendahnya kesadaran orang tua dalam
membaca serta rendahnya kesadaran orang tua
untuk menyediakan buku bagi anak menyebabkan anak tidak mendapatkan buku yang
dibutuhkan.
Keluarga merupakan lapangan pendidikan yang
pertama untuk anak-anaknya dalam pembinaan karakter anak, dan sebagai
pendidiknya adalah kedua orang tua. Orang tua memiliki berbagai macam peran
terhadap anak-anaknya. Baik berperan sebagai ibu yang mengurus rumah tangga, ayah
sebagai pencari nafkah. Tetapi keduanya juga memiliki peran penting terhadap
pendidikan anak itu sendiri. Tentunya
perhatian orang tua dengan kasih sayang dan cinta bisa meningkatkan minat baca
anaknya, ditambah sekarang diluncurkan
Kurikulum Berbasis cinta (KBC) yang dikeluarkan
oleh kemenag. Bertambah lengkap cinta yang didapat siswa baik dirumah maupun di
sekolah yang akan menambah minat baca siswa semakin baik. Yang paling utama
adalah orang tua sebagai role model, Suri tauladan dengan menunjukkan kepada
anak-anaknya untuk gemar membaca. Tidak hanya bisa menyuruh kepada anak, tapi orang
tua harus berusaha memperlihatkan minat bacanya didepan anak-anaknya.
Komentar