Pendidikan Agama Islam mampu Menjawab Tantangan Zaman dan Persoalan Umat
Oleh : Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I
(Pengawas PAI SMA/SMK Kabupaten Bogor)
Masyarakat kita saat ini sangat beragam dan ancaman terkena hoak itu sebagai dampak negatif teknologi yang diciptakan oleh beberapa kelompok yang menginginkan ketidakaturan hidup. Kehidupan yang serba transparan dan serba instan harus disikapi dengan bijak. Salah satunya dengan pendidikan yang baik dan terarah.
Pendidikan Agama Islam tentunya harus bisa menjawab tantangan zaman, menjawab persoalan-persoalan umat, memotivasi hati peserta didik dan memotivasi guru terus berkiprah yang ini tak akan tergantikan oleh teknologi sehingga penting bagi guru PAI untuk selalu menanamkan nilai- nilai akhlakul karimah, good personal approach guru PAI bagaimana dapat menjadi kawan bagi anak-anak didik kita, sebagai soluser juga keteladanan guru yang selalu mendoakan peserta didiknya dengan keikhlasan guru PAI dalam mendidik serta membimbing mereka menjadi pribadi yang solih/solihah, berilmu dan berwawasan luas.
Pengajaran dan pendidikan Agama Islam harus pula mengembangkan critical thinking dengan persoalan edukasi, psikologi dan tata kelola yang harus terus dibenahi, disempurnakan dan dilengkapi.
Profesional pengajaran dan pembelajaran di kelas harus lebih diutamakan disamping hak-hak guru dalam mendapatkan sertifikat pendidik sebagai guru Profesional. Fitrah seorang pendidik sebagai orang yang bertanggungjawab secara moral, berketuhanan dan beraqidah tauhid yang kuat.
Pernyataan di atas sangat relevan dan inspiratif dalam konteks pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital saat ini. Dan ini harus terus dikembangkan dan disebarluaskan kepada pendidik khususnya, pemangku kebijakan pada umumnya.
Ada beberapa hal penting yang harus disampaikan dalam menjawab segala hal yang merupakan tantangan zaman dan peran Guru PAI, antara lain dengan mengatasi berita Hoax dan dampak negatif teknologi. Guru PAI harus mampu membantu peserta didik membedakan informasi yang benar dan salah, serta mengembangkan kritisisme dan kesadaran akan dampak teknologi.
Selanjutnya penanaman nilai Akhlakul Karimah yang harus diterapkan karena guru PAI berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, kerjasama yang baik, empati, peduli dan kesabaran.
Adapun dalam mendidiknya guru memerlukan strategi Pengajaran pembelajaran PAI yang efektif dan efisien.
Pertama, Personal Approach dan Keteladanan. Guru PAI harus menjadi teladan yang baik dan membangun hubungan yang erat dengan siswa, sehingga siswa merasa nyaman dan terbuka dalam berdiskusi.
Kedua, Mendoakan peserta didik. Guru PAI harus selalu mendoakan peserta didiknya, agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses di kemudian hari.
Ketiga, Keikhlasan Guru dalam mendidik. Guru PAI harus memiliki keikhlasan dalam mengajar, mendidik dan membimbing peserta didik sehingga mereka dapat merasakan kasih sayang dan perhatian yang tulus dari guru.
Dalam Pengembangan Critical Thinking dapat dilakukan dengan cara mengembangkan pola berpikir Guru PAI untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sehingga mereka dapat menganalisis informasi dan membuat keputusan yang tepat dalam bersikap.
Di samping itu profesionalisme Guru harus ditumbuhkembangkan dengan menciptakan metodologi baru dalam pembelajaran. Guru PAI harus memiliki kompetensi dan profesionalisme yang tinggi, sehingga mereka dapat memberikan pembelajaran yang berkualitas, terjaga secara efektif dan bermakna.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter, akhlak dan moral peserta didik. Guru PAI harus memiliki keikhlasan, profesionalisme, dan kemampuan untuk mengembangkan critical thinking dan penanaman nilai akhlakul karimah. Dengan demikian, peserta didik dapat menjadi pribadi yang lebih baik, sukses, dan memiliki kesadaran akan tanggung jawab moral dan spiritual.
Selain itu Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam menjawab tantangan zaman yang terus berkembang dan tidak bisa dihindari.
Komentar