Ibadah Haji Ayah
“Ni’mat bapak mah anu gede nyaeta
bisa zarah ka Mekkah (ibadah haji) mudah-mudahan kamu ditakdirkeun bisa ibadah
haji jiga bapak” Kira kira itulah
kata-kata ayahku ketika suatu saat ngobrol denganku yang kalau diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia adalah “ Nimat bapak yang besar adalah bisa ziarah ke
Mekkah dan mudah-mudahan kamu di takdirkan bisa ibadah haji juga seperti
bapak”.
Pada saat yang lain ibuku berkata :”a, ibadah
haji mah kudu keur ngora, tuh tingali haji ahmad ngora keneh tos bisa ka Mekkah”
(a ibadah haji itu harusnya masih muda, lihatlah haji ahmad masih muda sudah
pergi ibadah haji). Aku hanya tersenyum dan sedikit aku menimpali pernyataan
ibu “iyah umi doain ajah, tapi bagaimana kalau misal tidak punya uang, walaupun
masih muda kan sama saja tidak bisa ke Mekkah”. Sambil tersenyum ibuku menjawab
“iya yah”. Seketika suasana hening dan sesaat kemudian ibu melanjutkan
obrolannya “tidak boleh begitu berdo’a saja kepada Allah, lihat saja ayahmu
uang tidak punya, barang yang mau dijual pun tidak ada, tapi bisa kan ke Mekkah
?”. aku terdiam dengan jawaban ibuku itu. Itu adalah do’a tulus seorang ibu
kepada anaknya untuk tetap semangat bercita-cita melaksanakan ibadah haji yang
isi dari pesan ibu tersebut adalah bahwa ibadah haji bukan urusan uang semata
tapi nasib dan takdir.
Ada orang yang kaya raya,
perhiasannya banyak tapi belum bisa ibadah haji karena alasan takut sakit dan
lelah, ada yang sudah siap segala sesuatunya tapi tidak jadi berangkat karena
wafat di rumah, ada pula yang sudah sampai di asrama haji tapi wafat karena
sakit. Itulah kenapa dalam ibadah haji selalu dikatakan ada tiga hal yaitu
kekuatan (uang dan sehat badan) dan nasib.”percaya deh kamu akan bisa
melaksanakan ibadah haji karena ayah dan ibu serta kakek nenekmu buyutmu sudah
menjadi haji” celetuk ibuku suatu hari. Aku hanya mengaminkan saja semoga
ucapan ibuku menjadi do’a yang di Kabul oleh Allah Swt yang maha kaya dan maha
berkuasa atas segala sesuatu.
Beberapa tahun lalu sekitar tahun
2005 ayahku wafat dan ibuku yang menjadi pengganti ayahku menerima honor
alakadarnya. Ibuku seorang anak perempuan ke-3 dari6 bersaudara. Ibadah haji
menjadi dambaan hidupnya, menjadi sebuah cita-citanya sehingga dengan penghasilan
alakadarnya ibuku mulai menyisihkan dengan menabung. Keinginan yang kuat untuk
beribadah haji menjadi perhatian khusus anak-anaknya yang berjumlah 5 orang.
Tanpa banyak diketahui anak-anaknya yang lain ibuku ternyata sudah
lunas ONH nya, dan selanjutnya secara berkala dijadwalkan latihan manasik haji
dan aku sempat beberapa kali mengantarnya manasik di beberapa tempat yang tidak
jauh dari rumah.
Manasik haji adalah peragaan
pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya. Dalam kegiatan
manasik haji, calon jamaah haji akan dilatih tentang tata cara
pelaksanaan ibadah haji yang akan dilaksanakannya, misalnya rukun haji, persyaratan, wajib, sunah, maupun hal-hal yang tidak
boleh dilakukan selama pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, para calon jamaah haji juga akan
belajar bagaimana cara melakukan praktik tawaf, sa’i, wukuf, lempar
jumrah, dan prosesi ibadah lainnya
dengan kondisi yang dibuat mirip dengan keadaan di tanah suci.
Selain manasik diatas, ibuku
dijadwalkan secara berkala untuk memeriksakan diri ke puskesmas setempat yang
telah bekerjasama dengan lembaga yayasan yang mengurus calon jamaah haji. “mudah-mudahan
ibu selalu disehatkan dalam rangkaian ibadah haji nanti” ucapku dalam hati
ketika aku mengantarnya ke puskesmas.
Anak-anaknya yang berjumlah 5
bersudara termasuk aku yang sulung sangat khawatir dengan kesehatannya, karena
ibuku mempunyai penyakit diabet kering. Pernah suatu ketika ibu dirawat masuk
ke ruang ICU Rabu 9 agustus 2017 di salah satu rumah sakit daerah cileungsi.
Tapi Alhamdulillah 3 minggu keluar dari rumah sakit dan sehat kembali. Itu
terjadi sebelum berangkat ibadah haji, karena almarhumah ibu berangkat ke tanah
suci tahun 2017.
Hari berganti hari kemudian
berganti bulan dan tahun setelah kejadian dirawat di ruang ICU kami
anak-anaknya selalu menjaga stabilitas kesehatan ibu agar selalu sehat.
Makanannya selalu kami perhatikan, agar tidak salah makan yang menyebabkan naik
gula darahnya atau turun drastic karena bila terjadi maka akan pingsan. “Nenek
jangan makan ini” anakku sedikit membentak neneknya agar tidak mengkonsumsi
makananan pantrangan yang di informasikan dari dokter. Dengan nada lirih ibuku berkata
sambil senyum “terus mana makanan buat nenek ?” celetuknya.
”Assalamu’alaaikum” terdengar
suara salam dari luar. “ini ada surat dari KBIH” dari tamu tersebut. Setelah
tamu tersebut berlalu pergi, aku lihat ditujukan untuk ibuku ternyata surat
pemberitahuan keberangkatan ibadah haji. “Alhamdulillah” ibuku berkata dengan
terharu setelah membaca isi surat itu. Keberangkatan ibadah haji tinggal
menunggu minggu saja karena sudah ada nomor bangku dan tanggal keberangkatan.

Komentar