Pesantren, Benteng Aqidah, Sekaligus benteng peradaban.

 


Oleh: Lukmanul Hakim

Tema ini mengingatkan kita kepada sebuah tulisan yang menjelaskan tentang kembalinya kita akan semangat nilai luhur, jati diri, pola pikir pesantren.

Karena tidak dapat dipungkiri pesantren adalah lembaga pendidikan yang sudah sangat tua, bahkan pesantren sudah ada sebelum agama besar hadir di bumi nusantara. Karena pendidikan berbasisi pesantren sudah ada sejak zaman kapitayan.

Setelah mengalami pertemuan dengan agama agama besar tersebut, pesantren mengalami perubahan, baik isi, bentuk disesuaikan dengan karakter agama masing masing. Namun tetap dalam misis risalahnya yaitu menjaga semangat dan moral serta menjungjung tinggi nilai nilai luhur pada setiap perilaku masyarakat, sosial, ekonomi pemerintahan dan kenegaraan.

Pesantren betul betul menjadi pusat pendidikan masyarakat, dari mulai pendidikan agama, bela diri, perekonomian, kebudayaan, keseniaan dan pemerintahan, oleh karena itu para calon pemimpin agama, raja, pujangga, budayawan, sultan, semuah dididik dipesantren atau padepokan.

Nah pada zaman wali songo lah pesantren yang bernuansa hindu budha mengalami nuansa Islam atau mendapat sentuhan sentuhan nuansa Islam.

Pada tahun 1900 pendidikan kolonial mulai masuk ke Indonesia, pada saat kolonial masuk ke Indonesia membawa kebijakan politik dengan mengenalkan pendidikan sekolah, yang mendikotomi pendidikan agama dan umum. Pendidikan pesantren yang tidak mengenal dikotomi pendidikan agama dan umum, pada saat itu mulai terjadi dikotomi pendidikan agama dan umum padahal para kiayi ulama tidak demikian. Karena pesantren menintegralkan keduanya, sedangkan pendidikan barat tidak mengenal pendidikan agama.

Paku buwono VII, sumbernyowo, pangeran diponogoro adalah tokoh besar yang piawai dalam politik dan lihai dalam berperang tak terkalahkan semuah musuh, adalah bukti nyata dari hasil pendidikan pesantren.

Dengan kebijakan pendidikan kolonial ini pendidikan pesantren yang tadinya terpadu mulai terpisah, sekolah menjadi pendidikan tunggal yang menggeser pendidikan pesantren. Sehingga jika ingin belajar hukum, politik, sosial, ekonomi tidak lagi belajar kepesantren tapi kebarat. Dan ini membawa petaka bagi paradigma pendidikan pesantren yang mampu melahirkan tokoh tokoh besar.

Namun sampai hari ini pesantren dengan usianya yang sangat cukup tua tetap kokoh dengan paradigma pendidikannya dengan tetap liyaatafqqahu fiddin dan liyunzdiruu kaumahum, dengan melahirkan tokoh tokoh besar yang tak terkalahkan, sampai Indonesia merdeka, khadrotussyaieh Hasyim as 'Aary, kiayi Wahab Hasbullah, kiayi Khalil Bangkalan, kiayi Wahid Hasyim dll, adalah tokoh tokoh garda terdepan dalam melawan kolonial dan tokoh ulama kharismatik lahir dari pesantren namun tak pernah mengenal sedikitpun sekolah kolonial.

Dengan kembali kepesantren berarti kembali kepada nilai nilai luhur pesantren yang telah diintegralkan dalam pendidikan pesantren oleh para wali dan para ulama, kejujuran , kesederhanaan, keadilan ,kebersamaan, semangat juang, dan pengabdian tanpa batas. Terlebih maraknya tantangan individualisme, pragmatisme, egoisme, neoliberalisme, demoralisme, maka kembali kepesantren merupakan kekuatan bagi generasi hari ini dan generasi selanjutnya.

Kembali kepesantren kembali kepada pendidikan pesantren, aktifitas, kegiatan, belajar serta menguatkan kembali institusi pendidikan pesantren agar diperhitungkan orang orang sebagaimana para tokoh bangsa, para pejuang bangsa terdahulu.

Pendidikan pesantren diberikan oleh seorang ulama/kiayi yang representatif, memiliki sanad keilmuan yang jelas, segala ilmu dan amalan diajarkan secara bertahap, sang ulama menjadi pembimbing dan teladan secara tertib dan waktu yang lama. Agar memperoleh pemahaman yang mendalam, tidak instan, sehingga agama tidak mudah menjadi kedok, menjadi alat manipulasi, berkedok agama tapi tujuan duniawi, memamerkan amal tanpa isi dan itu sebuah kedurhakaan. Q.S. al kahfi: 103-104


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tamyiz dalam Perspektif Nahwu: Kaidah, Contoh, dan Aplikasinya

SILATURAHMI KUNCI MENDAPAT RIDHA ALLAH

Pendidikan Agama Islam mampu Menjawab Tantangan Zaman dan Persoalan Umat

PERAN ORANG TUA TERHADAP KEGIATAN ANAK DI RUMAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA Oleh : Dida Nursida, M.Pd. Pengurus PC Pergunu Kabupaten Bogor

Masa Suram Kaum Perempuan

Pesantren, Moderasi Islam, dan Isu Radikalisme

BERFILANTROPI DENGAN RUANG AMAN

LEBIH UTAMA MEMBACA MUSHAF ATAU HAFALAN