Pesantren, Benteng Aqidah, Sekaligus benteng peradaban.
Tema ini mengingatkan kita kepada sebuah tulisan yang
menjelaskan tentang kembalinya kita akan semangat nilai luhur, jati diri, pola
pikir pesantren.
Karena tidak dapat dipungkiri pesantren adalah lembaga
pendidikan yang sudah sangat tua, bahkan pesantren sudah ada sebelum agama
besar hadir di bumi nusantara. Karena pendidikan berbasisi pesantren sudah ada sejak zaman kapitayan.
Setelah mengalami pertemuan dengan agama agama besar
tersebut, pesantren mengalami perubahan, baik isi, bentuk disesuaikan dengan
karakter agama masing masing. Namun tetap dalam misis risalahnya yaitu menjaga
semangat dan moral serta menjungjung tinggi nilai nilai luhur pada setiap
perilaku masyarakat, sosial, ekonomi pemerintahan dan kenegaraan.
Pesantren betul betul menjadi pusat pendidikan
masyarakat, dari mulai pendidikan agama, bela diri, perekonomian, kebudayaan,
keseniaan dan pemerintahan, oleh karena itu para calon pemimpin agama, raja,
pujangga, budayawan, sultan, semuah dididik dipesantren atau padepokan.
Nah pada zaman wali songo lah pesantren yang
bernuansa hindu budha mengalami nuansa Islam atau mendapat sentuhan sentuhan
nuansa Islam.
Pada tahun 1900 pendidikan kolonial mulai masuk ke Indonesia, pada saat kolonial masuk ke Indonesia membawa kebijakan politik
dengan mengenalkan pendidikan sekolah, yang mendikotomi pendidikan agama dan umum. Pendidikan pesantren yang tidak mengenal
dikotomi pendidikan agama dan umum, pada saat itu mulai terjadi dikotomi
pendidikan agama dan umum padahal para kiayi ulama tidak demikian. Karena
pesantren menintegralkan keduanya, sedangkan pendidikan barat tidak mengenal pendidikan agama.
Paku buwono VII, sumbernyowo, pangeran diponogoro adalah
tokoh besar yang piawai dalam politik dan lihai dalam berperang tak terkalahkan
semuah musuh, adalah bukti nyata dari hasil pendidikan pesantren.
Dengan kebijakan pendidikan kolonial ini pendidikan
pesantren yang tadinya terpadu mulai terpisah, sekolah menjadi pendidikan
tunggal yang menggeser pendidikan pesantren. Sehingga jika ingin belajar hukum,
politik, sosial, ekonomi tidak lagi belajar kepesantren tapi kebarat. Dan ini
membawa petaka bagi paradigma pendidikan pesantren yang mampu melahirkan tokoh
tokoh besar.
Namun sampai hari ini pesantren dengan usianya yang
sangat cukup tua tetap kokoh dengan paradigma pendidikannya dengan tetap
liyaatafqqahu fiddin dan liyunzdiruu kaumahum, dengan melahirkan tokoh tokoh
besar yang tak terkalahkan, sampai Indonesia merdeka, khadrotussyaieh Hasyim as 'Aary, kiayi Wahab Hasbullah, kiayi Khalil Bangkalan, kiayi Wahid Hasyim dll, adalah tokoh tokoh garda terdepan dalam melawan kolonial dan tokoh ulama
kharismatik lahir dari pesantren namun tak pernah mengenal sedikitpun sekolah
kolonial.
Dengan kembali kepesantren berarti kembali kepada nilai
nilai luhur pesantren yang telah diintegralkan dalam pendidikan pesantren oleh
para wali dan para ulama, kejujuran , kesederhanaan, keadilan ,kebersamaan,
semangat juang, dan pengabdian tanpa batas. Terlebih maraknya tantangan
individualisme, pragmatisme, egoisme, neoliberalisme, demoralisme, maka kembali
kepesantren merupakan kekuatan bagi generasi hari ini dan generasi selanjutnya.
Kembali kepesantren kembali kepada pendidikan pesantren,
aktifitas, kegiatan, belajar serta menguatkan kembali institusi pendidikan
pesantren agar diperhitungkan orang orang sebagaimana para tokoh bangsa, para pejuang bangsa terdahulu.
Pendidikan pesantren diberikan oleh seorang ulama/kiayi
yang representatif, memiliki sanad keilmuan yang jelas, segala ilmu dan amalan
diajarkan secara bertahap, sang ulama menjadi pembimbing dan teladan secara
tertib dan waktu yang lama. Agar memperoleh pemahaman yang mendalam, tidak
instan, sehingga agama tidak mudah menjadi kedok, menjadi alat manipulasi,
berkedok agama tapi tujuan duniawi, memamerkan amal tanpa isi dan itu sebuah
kedurhakaan. Q.S. al kahfi: 103-104

Komentar