Pembelajaran Berbasis Tasawuf
Oleh : Dudung Solahudin
(Guru MTs.Jonggol)
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang dari ketidaktahuan menjadi
tahu. Selain menambah pengetahuan, pendidikan memberikan seseorang banyak pengalaman.
Melalui ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang, maka akan
merubah pola fikir dan cara pandang serta perilaku seseorang tersebut. Oleh
karena itu Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
seseorang baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial.
Pendidikan
adalah proses pengembangan potensi kemajuan berfikir secara ilmiah. Berfikir
melalui tahapan-tahapan ilmiah dengan menggunakan akal sebagai perangkat untuk
berfikir kritis dan mengeluarkan ide-ide yang mampu menjadikan individu lebih
baik dan nantinya akan mampu mengubah dunia secara umum.
Melalui
Pendidikan seseorang dapat menentukan masa depan dan menuntun kehidupan menjadi
lebih baik dalam bersikap dan berfikir serta mampu dalam pengambilan keputusan
yang tepat. Oleh karena itu lingkungan pendidikan sangat penting diperoleh,
baik pendidikan yang didapatkan dilingkungan keluarga, pendidikan yang
diperoleh di lingkungan sekolah dan tidak kalah pentingnya memperoleh
dan beradaftasi dengan pendidikan yang didapat dilingkungan masyarakat.
Orangtua
sebagai pendidik pertama dilingkungan keluarga mempunyai peran penting dalam
memberikan pemahaman bahwa anak-anaknya akan hidup pada masa yang akan datang.
Sebuah masa tidak ada lagi ikut campur orangtua dan harus mampu berdiri diatas
kaki sendiri. Karena tugas orangtua sudah selesai yaitu memberikan pendidikan
ketika masih bagian anggota keluarga dirumah.
Menurut Hadari
Nawawi ditegaskan bahwa pokok-pokok pendidikan dalam keluarga adalah untuk
membantu anak-anak memahami posisi dan perannya masing-masing serta mengenal
dan memahami norma-norma yang berlaku agar mampu melaksanakannya untuk
memperoleh kemuliaan hidup.[1]
Lebih jauh
lagi dikatakan oleh Imam Ghazali terkait pendidikan lingkungan keluarga adalah
bahwa tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak yang utama adalah
membersihkan, menyucikan, dan membawakan hati anak untuk bertaqwa kepada Allah
Swt.[2]
Semua manusia
diberikan akal fikiran sebagai perangkat untuk berfikir. Istilah pendidikan (al-tarbiyah)
hanya dilakukan terhadap manusia karena manusia mempunyai akal sebagai pembeda
dari makhluk lain. Semua orang mempunyai Bakat dan keahlian. Pendidikan akan
memunculkan, menelusuri dan mengembangkan bakat dan keahlian yang dimiliki seseorang.
Bakat dan keahlian merupakan potensi seseorang yang akan terbentuk melalui
pendidikan.
Kita akan bisa
menilai perilaku seseorang dilihat dari pendidikannya, walaupun mungkin ada
yang tidak sependapat bahwa pendidikan seseorang menjadi tolak ukur terhadap
sikap dan perilaku seseorang, misalkan ada orang yang berpendidikan tinggi
sampai gelar S3, namun dalam kehidupan sosial di masyarakat kurang mampu
bergaul jika tidak dikatakan kaku dalam bermasyarakat.
Diluar adanya
penilaian masyarakat itu, pendidikan yang di alami seseorang tetap menjadi
nomor satu yang harus dimiliki. Kita paham bahwa sasaran utama pendidikan
adalah terbentuknya masyarakat yang lebih baik. Melalui pendidikan akan
terbentuk kepibadian yang baik.
Menurut
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara[3].
Ada dua
persoalan dalam pengembangan potensi seseorang secara individu yaitu potensi
akal dan potensi berpikir. Kedua potensi ini penting untuk dikaji melalui
pendidikan. Pertama, pengembangan potensi akal dan potensi
berfikir kreatif. Kedua, terkait tentang pengembangan
kajian keilmuwan. Dan kajian keilmuwan identik dengan pembelajaran. Karena
pembelajaran merupakan suatu proses penyebaran ilmu pengetahuan dalam bentuk
informasi, dimana posisi pelajar berperan sebagai objek pembelajaran (student
centered).[4]
Apabila kita
perhatikan bahwa pendidikan dan pengajaran berbeda dalam hal pelaksanaan dan
substansinya. Terkadang memang sulit dibedakan antara pendidikan dan
pengajaran. Karena bisa dikatakan bahwa pendidikan itu didalamnya terdapat
pengajaran dan pengajaran adalah proses dari pendidikan.
Pengajaran
berarti proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan. Sedangkan pendidikan Menurut KBBI (Kamus Besar
Bahasa Indonesia), berasal dari kata dasar 'didik' yang berarti memelihara dan
memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan dimaknai
sebagai proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran. Dari pengertian ini,
kita bisa memperoleh pemahaman bahwa pendidikan ditujukan untuk mengubah sikap
dan perilaku seseorang, yang mana ditempuh melalui pengajaran.
dapat
disimpulkan bahwa pendidikan mencakup keseluruhan proses pembentukan manusia
yang utuh dan berkualitas. Sedangkan pengajaran lebih bersifat teknis, di mana
kegiatannya meliputi perencanaan, pengarahan, dan memberikan pengalaman belajar
kepada siswa dengan tujuan memperoleh ilmu pengetahuan dan pemahaman yang baru.[5]
Pendidikan Islam sudah saatnya mereformasi
pendidikan Islam yang berbasis tasawuf yang berada dalam lingkup pendidikan
islam tradisional (pesantren) yang berisi nilai-nilai spiritual setidaknya mengandung
nilai-nilai sebagai berikut[6] :
1.
Nilai
teosentri yaitu sebuah pandangan kembali kepada kebenaran dan penghambaan
kepada Tuhan .
2.
Nilai
sukarela dan mengabdi yaitu pandangan bahwa proses pendidikan yang didalamnya
terdapat Proses Belajar Mengajar semata-mata sebagai ibadah kepada Allah Swt.
3.
Nilai
kearifan yaitu berkaitan dengan perilaku mulia seperti kesabaran, rendah hati,
patuh pada ketentuan agama dan berusaha bermanfaat untuk kepentingan bersama.
4.
Nilai
kesederhanaan yaitu kondisi kehidupan sewajarnya tidak berlebih-lebihan.
5.
Nilai
kebersamaan yaitu adanya kerjasama bukan persaingan yang tidak sehat.
6.
Nilai
pengabdian dan terus mencari ilmu
7.
Restu kyai
(guru) yaitu selalu menyambungkan silaturahmi kepada orang-orang yang telah mengajarkan
ilmu dan kebaikan.
Melalui ketujuh nilai
itulah diharapkan pendidikan islam dan lembaga pendidikan islam tetap eksis
dalam kehidupan pada masa-masa yang akan datang. Semoga.
[1] Basri,Hasan. (2013). Landasan Pendidikan. Bandung: CV.Pustaka
Setia. hal. 43
[2] Basri,Hasan. (2013). hal. 44
[3] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 nomor 1
[4] Murtadha. (2011). Dasar-dasar Epistemologi Pendidikan Islam,
Terj. Muhammad Bahrudin Jakarta: Sadra Press, hal. 7.
[5] https://ujione.id/mengetahui-perbedaan-pendidikan-dan-pengajaran/
[6] M.Noor,Rohinah. (2010). KH.Hasyim Asy’ari memodernisasi NU &
Pendidikan Islam). Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, Hal.57

Komentar