Aqidah Aswaja

 Oleh: Lukmanul Hakim, M.Ag



Pandangan Aqidah Aswaja tentang Zat dan kemahasucian Allah berkeyakinan bahwa Allah itu tuhan yg Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Yang terdahulu tak berawal dan tak berakhir, yang tetap wujud-Nya, yang abadi, tidak sirna. Yang senantiasa di sifati dengan sifat keagungan, yang tidak putus dengan ketetapan, yang tidak sirna dengan habisnya masa. Allah yang awal dan yang akhir, Yang zahir dan yang batin, Dialah yang maha mengetahui akan segala sesuatu.

Dialah Allah yang bukan berupa Jisim yang dapat di gambarkan, tidak menyerupai yang ada, yang ada tidak serupa dengan-Nya. Yang tidak dibatasi oleh arah dan tidak terbatas meliputi bumi, langit, akan tetapi menguasai atas 'Arsy. Menguasai atas segala sesuatu. Dialah Allah yang maha Tinggi kedudukan-Nya. Zat- Nya bisa di ketahui nanti di negeri akhirat Sebagai kesempurnaan nikmat dengan memandang Wajah-Nya yang mulia.

Allah SWT tuhan yang maha hidup dan kuasa, yang mana kuasa dan hidup-Nya Maha sempurna. Tidak ngantuk, tidak tidur, tidak Fana, tidak mati. Dan Dialah Allah yang sendiri menciptakan mahkluknya tanpa sekutu, Dialah Allah yang Maha mengetahui atas semua pengetahuan yang meliputi pengetahuan-Nya dari dasar bumi sampai langit yang paling tinggi. Tidak ada sebutir debupun yang menghalangi pengetahuan-Nya.

Dialah Allah SWT yang menghendaki dan mengurus, mengatur segala yang ada ini. Tidak ada seorang raja dan kerjaannya, penguasa dan kekuasaannya kecuali atas qudrah dan iradah-Nya, Hikmah dan Kehendak-Nya. Jika berkehendak, maka ada-lah. Jika tidak berkehendak maka tidak ada-lah. Dan itu tidak ada yang bisa menolak dan menentang hukum hukum-Nya.

Dialah Allah yang Maha mendengar dan maha melihat. Pendengaran-Nya tidak terhalangi oleh Jarak. Penglihatan-Nya Tidak terhalangi oleh kegelapan. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak serupa dengan pendengaran dan penglihatan Mahkluk, sebagaimana tidak serupa Zat-Nya dengan Zat Mahkluk-Nya.

Allah SWT Tuhan yang Maha bercakap cakap; perintah, larangan, janji, ancaman. Dialah Allah yang bercakap cakap dengan Nabi Musa, dengan kalam yg melekat pada Zat-Nya, yang mana kalam-Nya bukan mahkluk diantara makhluk-Nya.

Al-Qur'an itu Kalamullah, bukan makhluk yang akan binasa,rusak. Bukan pula sifat makhluk yang akan sirna. SesungguhNya Allah SWT Maha suci dan Maha Tinggi, tidak ada Selain-Nya kecuali Baharu dan atas kehendak-Nya. Jin, manusia, Malaikat, Langit, Bumi, Hewan, Tumbuhan, Benda Padat, Benda Cair, yang di lihat, yang di rasa, itu semua Baharu, diciptakan dengan kuasa Allah SWT, maka itu semuah makhluk ciptaan-Nya.

Dari ketiadaan menjadi ada, itu semua atas kehendak-Nya. Setelah masa tidak ada sesuatu, Allah Jadikan pada Masa itu berupa sesuatu dengan Sendiri-Nya tanpa sekutu. Maka semua itu Baharu dan Allah menyatakan itu semua menunjukkan kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Bukan Allah SWT butuh, Bukan Allah SWT memerlukan makhluk. Sesungguhnya Itu adalah Anugerah, Kebaikan, Kenikmatan, dan Karunia Allah SWT.

Itu semuah Anugerah-Nya, Yang dengan Anugerah Allah itu, Allah akan mengganjar hamba hamba beriman yang tha'at dengan kemuliaan dan Janji bagi yang tha'at dan melaksanakan kewajiban. Karena itu menjadi kewajiban makhluk dengan kewajiban atas penyampaian para Nabi bukan atas dasar akal semata. Akan tetapi Allah SWT mengutus para rasul dan menampakkan kebenaran risalahnya dengan mu'jizat. Maka apa yang di sampaikan nya manusia wajib membenarkan nya.

Wajib membenarkan apa yangg di bawa, di sampaikan para Rasul, demikian Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa risalah untuk seluruh umat manusia, sebagai penutup risalah dan kenabian. Yang membawa kabar gembira dan peringatan, mengajak kepada tuhan dan memberi penerang, petunjuk atas agama yang lurus.

Demikian pula, pandangan Aqidah Aswaja tidak mengkafirkan sesama ahli qiblat yg melakukan dosa besar dan tidak juga menetapkan seseorang penghuni surga atau neraka, kecuali seseorang yang bersaksi tidak ada tuhan Selain Allah SWT dan Bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw utusan Allah SWT dengan balasan surga. Kita berharap surga bagi orang orang yang melakukan dosa, Dan Allah mengeluarkan seseorang dari neraka dengan sebab Syafaat Rasulullah karena membenarkan apa yang di bawa Rasulullah, yang datang dari Rasulullah. Dan juga pandangan Aqidah Aswaja itu mengimani adanya siksa Kubur, dikumpulkan nya manusia di padang Mahsyar, dihisabnya manusia.

Dan Aqidah Aswaja mencintai Salaf Sholeh yang memilih Allah dan Rasulnya. Menghormati dan mencintai mereka sebagaimana Allah mencintai mereka. Dan Imam yang mulia setelah Rasulullah adalah Sahabat Abu Bakar yang memulaikan agama ini dan mengalahkan para murtad. Kemudian pandangan Aqidah Aswaja adalah Dahulu kan orang orang muslim menjadi pemimpin sebagaimana Rasulullah mendahulukan Abu bakar menjadi Kholifah Rasulullah. Kemudian Sahabat Umar, kemudian Sahabat Utsman, Kemudian Sahabat Ali, Semua itu pemimpin pemimpin setelah Rasulullah, mereka semua pemimpin pemimpin setelah Kenabian (Khilafah An-Nubuwwah).

Dan Aqidah Aswaja mencintai mereka semua dan tidak berkomentar yang terjadi pada mereka dan mengembalikan apa yang terjadi pada mereka (perbedaan) kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi dan Ijma' Kaum Muslim (Jumhurul Muslimin). Kami tidak membuat bid’ah dalam agama Allah. Kami tidak berkata tentang Allah atas apa apa yang tidak kami ketahui. Dan kami berpendapat Sedekah dari orang orang muslim yang telah wafat dan Do'a bagi mereka dan mengimani bahwa Allah memberikan manfaat dari Do'a dan sedekahnya. Dan Allah memberikan keistimewaan kepada orang orang sholeh dengan kuasa-Nya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tamyiz dalam Perspektif Nahwu: Kaidah, Contoh, dan Aplikasinya

SILATURAHMI KUNCI MENDAPAT RIDHA ALLAH

Pendidikan Agama Islam mampu Menjawab Tantangan Zaman dan Persoalan Umat

PERAN ORANG TUA TERHADAP KEGIATAN ANAK DI RUMAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA Oleh : Dida Nursida, M.Pd. Pengurus PC Pergunu Kabupaten Bogor

Masa Suram Kaum Perempuan

Pesantren, Moderasi Islam, dan Isu Radikalisme

BERFILANTROPI DENGAN RUANG AMAN

LEBIH UTAMA MEMBACA MUSHAF ATAU HAFALAN